Pencarian Berita Terdahulu Dosen Humas dan Komunikasi Digital Dorong Mahasiswa...
Read MorePencarian Berita Terdahulu Dosen Humas dan Komunikasi Digital Dorong Mahasiswa...
Read MorePencarian Berita Terdahulu Mahasiswa Humas dan Komunikasi Digital UNJ Dalami...
Read MorePencarian Berita Terdahulu Mahasiswa Angkatan 2022 Prodi Humas dan Komunikasi...
Read MorePencarian Berita Terdahulu Mahasiswa dan Dosen BEMP Humas & Komunikasi...
Read MorePencarian Berita Terdahulu 12 Mahasiswa Humas dan Komunikasi Digital UNJ...
Read More
Jakarta, 9 Agustus 2026 — Universitas Negeri Jakarta kembali menunjukkan keseriusannya dalam mendorong prestasi mahasiswa melalui Pemilihan Mahasiswa Berprestasi (Pilmapres). Tahun ini, Program Studi Hubungan Masyarakat dan Komunikasi Digital turut berkontribusi secara aktif dengan menghadirkan salah satu dosennya, Anggun Nadia Fatimah, S.Sos, M.Si., yang akrab disapa Ibu Anggun sebagai bagian dari TaskForce Pembinaan Pemilihan Mahasiswa Berprestasi (Pilmapres) tingkat universitas. Pilmapres atau Pemilihan Mahasiswa Berprestasi merupakan kompetisi nasional yang diselenggarakan oleh Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (Dikti) dan mencakup tiga kategori peserta; sarjana, diploma, dan disabilitas. Untuk mempersiapkan mahasiswanya secara serius dan sistematis, Universitas Negeri Jakarta membentuk Tim TaskForce Pembinaan tingkat universitas yang bertugas mendampingi proses seleksi, pembinaan, hingga kompetisi di tingkat wilayah dan nasional.
TaskForce Pembinaan Pilmapres UNJ merupakan tim yang terdiri dari empat dosen muda yang berasal dari berbagai fakultas, yakni FIP, FEB, FISH, dan FT. Tim ini bekerja mulai dari tahap seleksi di tingkat fakultas hingga pendampingan di tingkat nasional, berkolaborasi dengan Forum Mahasiswa Berprestasi (Formapres) UNJ dan 18 dewan juri dari berbagai fakultas. Tahun ini menjadi tahun pertama model TaskForce ini diterapkan dengan melibatkan dosen-dosen muda serta sistem penjurian yang dirancang semirip mungkin dengan mekanisme penilaian nasional.
Alur Pilmapres
Ibu Anggun menjelaskan bahwa proses Pilmapres berjenjang dan panjang. Secara garis besar, alurnya dimulai dari seleksi di tingkat program studi, kemudian meningkat ke tingkat fakultas, lalu universitas, wilayah (LLDIKTI Wilayah 3 untuk kawasan Jakarta dan sekitarnya), dan akhirnya ke tingkat nasional. TaskForce Pembinaan UNJ baru mulai bertugas saat grand final tingkat fakultas, di mana satu atau dua anggota TaskForce bertindak sebagai juri.
Mahasiswa yang meraih juara 1 dan juara 2 di tingkat fakultas berhak mengikuti “Sekolah Mawapres”, sebuah program pembinaan intensif di tingkat universitas. Di sini, para peserta mendapatkan coaching di berbagai bidang, seperti public speaking, bahasa Inggris, penyusunan gagasan kreatif (GK) untuk jenjang sarjana, atau produk inovatif (PI) untuk jenjang diploma, serta penguatan aspek psikologis. Setelah Sekolah Mawapres, dilakukan seleksi semifinal untuk menentukan peserta yang akan maju ke grand final universitas.
Grand final universitas melibatkan 18 juri dari berbagai fakultas, termasuk psikologi, dan mencakup penilaian dari berbagai aspek. Mulai dari Capaian Unggulan (CU), gagasan kreatif atau produk inovatif, presentasi bahasa Inggris, dan penilaian psikologis. Pemenang di tingkat universitas kemudian maju ke LLDIKTI, di mana beberapa peserta terbaik diajukan ke tingkat nasional dan dipilih kembali oleh panitia pusat.
Peran TaskForce Pembinaan
Ibu Anggun menggambarkan peran TaskForce pembinaan bukan sebagai dosen pembimbing materi, melainkan lebih menyerupai seorang fasilitator yang mendampingi mahasiswa dari berbagai sisi. Dalam proses pembinaan, TaskForce bekerja dengan membaca panduan nasional untuk memahami seluruh requirement, mengidentifikasi kapasitas awal setiap kandidat, kemudian merancang strategi pembinaan yang memanfaatkan berbagai sumber daya yang ada di universitas.
Pembinaan tidak dilakukan sendiri oleh TaskForce, melainkan melibatkan kolaborasi lintas unit. Jika kandidat memiliki kelemahan di bidang psikologis, TaskForce menghubungi dosen-dosen psikolog di universitas. Jika kemampuan bahasa Inggrisnya perlu ditingkatkan, Task Force berkoordinasi dengan Language Center of UNJ (LCU). Urusan desain poster atau produksi video diserahkan kepada pihak yang kompeten. TaskForce bertugas sebagai koordinator yang memastikan semua aspek pembinaan berjalan secara terpadu.
“Task Force ada untuk menjembatani gap antara requirement dan kapasitas mahasiswa. Bayangkan requirementnya di lantai 4, sementara mahasiswanya masih di lantai 1. Tugas kami adalah menemani mereka naik satu per satu, dari lantai 1 ke lantai 2, ke lantai 3, sampai akhirnya ke lantai 4.” Tutur Ibu Anggun
Komponen yang Tidak Bisa Dikejar Semalam
Salah satu komponen paling kritis dalam penilaian Pilmapres adalah Capaian Unggulan (CU), yang bobotnya mencapai 40 persen dari total penilaian. CU diperoleh dari akumulasi prestasi mahasiswa yang dikompilasi sebelum kompetisi berlangsung, mencakup hasil kompetisi (internasional, nasional, dan lokal), publikasi jurnal, karya yang memiliki Hak Kekayaan Intelektual (HKI), sertifikasi kompetensi, karier organisasi (ketua, wakil ketua sekretaris, bendahara UKM atau BEM), kegiatan kerelawanan berskala nasional atau internasional, hingga pengalaman menjadi moderator atau narasumber di kegiatan bertaraf minimal nasional.
Setiap capaian memiliki bobot poin yang berbeda berdasarkan tingkat dan kategorinya. Kompetisi internasional perorangan misalnya, memiliki poin tertinggi (40–50), sementara kompetisi lokal berada di kisaran yang lebih rendah. Penting untuk diketahui bahwa sebuah lomba dianggap berskala nasional jika pesertanya berasal dari minimal tiga provinsi, dan sertifikat dari penyelenggara luar institusi sendiri memiliki kekuatan yang lebih tinggi dibanding sertifikat dari lomba internal kampus.
Tiga Skill yang Harus Disiapkan Mahasiswa Sejak Memasuki Perkuliahan
Pertama, bahasa Inggris. Seluruh sesi grand final Pilmapres menggunakan bahasa Inggris, mulai dari presentasi diri, paparan gagasan atau produk, hingga sesi FGD (Focus Group Discussion). Kemampuan komunikasi lisan dalam bahasa Inggris bukan sekadar membaca teks adalah modal dasar yang tidak bisa diabaikan.
Kedua, aktif mengikuti kompetisi nasional dan internasional. Mahasiswa diimbau untuk mulai mengumpulkan poin CU sejak semester awal perkuliahan. Kompetisi daring, lomba poster, lomba video, karya tulis ilmiah, atau bahkan menjadi finalis sebuah kompetisi nasional sudah bisa dicantumkan dalam CU. Nilai finalis nasional pun sudah sangat berarti karena dapat dituliskan di CV dengan bobot yang diperhitungkan.
Ketiga, serius dalam mata kuliah yang menghasilkan produk. Khusus untuk jenjang diploma, peserta diwajibkan menghadirkan produk nyata yang dapat didemonstrasikan. Mahasiswa Program Studi Humas dan Komunikasi Digital memiliki keunggulan di sini karena mata kuliah seperti desain UI (User Interface) dan UX (User ExperienceI), produksi video, iklan layanan masyarakat, dan konten digital sangat relevan untuk dikembangkan menjadi produk inovatif yang kompetitif di level nasional.
Pesan untuk Mahasiswa
Ibu Anggun menyampaikan bahwa mahasiswa yang berhasil dalam Pilmapres bukan selalu mereka yang dari awal sudah terlihat sebagai yang terbaik. Justru banyak di antara para pemenang adalah mereka yang pada awalnya tidak menyangka diri mereka bisa sejauh itu. Proses Pilmapres adalah proses pertumbuhan, dan yang terpenting adalah keberanian untuk memulai.
“Jangan bangun mindset bahwa kamu harus juara satu nasional. Mulai dari yang kecil, dan pikirkan bahwa dalam setiap langkah, kamu punya kesempatan untuk bertumbuh dan berkembang. Kalau ada kompetisi, mulai ikut. Kalau ada kesempatan untuk menang, coba. Ayo.” Ucap Ibu Anggun
Penulis: NTN, ADA, NE
Editor: NE
Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Jakarta Gd. K. Kampus UNJ, Jl. Rawamangun Muka Jakarta Timur
Telp. (021)4890108, 4753655, Fax (021)4753655
Email : HumasKomunikasiDigital@unj.ac.id
Hak Cipta © 2026. Prodi Humas dan Komunikasi Digital – Universitas Negeri Jakarta